Waktu adalah ibarat pisau atau pedang yang sangat tajam
Jika anda tidak bisa menggunakannya dengan baik dan tepat
Bisa jadi pisau atau pedang itu akan melukai diri anda sendiri
Waktu ibarat emas yang harus di manfaatkan semaksimal mungkin
Karena didalamnya terdapat berbagai macam nilai yang berharga
Kamis, 18 Agustus 2011
Jumat, 12 Agustus 2011
"Bendera Putih"
Ini bukan cerita tentang dirimu
Ini cerita tentang kisah kita
Aku tidak ingin membuatmu terkesan
atau membuatmu yakin tentang perasanku padamu
Ditempat ini kita berada saat itu
Melihat Warna langit yang berubah perlahan
Menyaksikan senja yang beranjak gelap
Saling bercerita tentang kehidupan dan kebersamaan
Sadarkah aku tentang perasaan ini???
Jawaban itu ada dimatamu
Mata yang lebih berbicara banyak hal
Yang terkatakan oleh bibirmu
Menyerah untuk menemukan penjelasan nalar
Seolah kota tanpa benteng
Ataupun rumah tanpa pagar
Kau membiarkanku masuk dalam dunia lewat matamu
Saat aku merasakan ketiadaan gravitasi bumi
Ruang angkasa tak terbatas
Kekuatanku ada padamu
Namun kenyataan.......
Memang selalu menghempaskan kita kembali ketanah
Terbanting keras hingga kadang membuat remuk
Tak perduli seberapa lamanya kita ingin bersama
Semua orang tak akan tahu kekuatanku tlah habis
Saat aku bertahan
Semakin hari aku semakin merasa
Ilusi itu semakin mendesak kepermukaan
Bergerak seolah magma
Yang menyusup celah-celah kerak bumi
Mencari kepundan yang siap meletuskannya
Kita hidup karena terbiasa
Kita sering membenci sebuah perpisahan
Tapi kita tetap menerimanya karena itu bagian hidup kita
Ini cerita tentang kisah kita
Aku tidak ingin membuatmu terkesan
atau membuatmu yakin tentang perasanku padamu
Ditempat ini kita berada saat itu
Melihat Warna langit yang berubah perlahan
Menyaksikan senja yang beranjak gelap
Saling bercerita tentang kehidupan dan kebersamaan
Sadarkah aku tentang perasaan ini???
Jawaban itu ada dimatamu
Mata yang lebih berbicara banyak hal
Yang terkatakan oleh bibirmu
Menyerah untuk menemukan penjelasan nalar
Seolah kota tanpa benteng
Ataupun rumah tanpa pagar
Kau membiarkanku masuk dalam dunia lewat matamu
Saat aku merasakan ketiadaan gravitasi bumi
Ruang angkasa tak terbatas
Kekuatanku ada padamu
Namun kenyataan.......
Memang selalu menghempaskan kita kembali ketanah
Terbanting keras hingga kadang membuat remuk
Tak perduli seberapa lamanya kita ingin bersama
Semua orang tak akan tahu kekuatanku tlah habis
Saat aku bertahan
Semakin hari aku semakin merasa
Ilusi itu semakin mendesak kepermukaan
Bergerak seolah magma
Yang menyusup celah-celah kerak bumi
Mencari kepundan yang siap meletuskannya
Kita hidup karena terbiasa
Kita sering membenci sebuah perpisahan
Tapi kita tetap menerimanya karena itu bagian hidup kita
Minggu, 07 Agustus 2011
"Nenek"
sorot matamu yang tajam
disertai guratan-guratan tegas di wajahmu
Mengisyaratkan panjangnya perjalanan hidup yang telah dilalui
Tubuhmu renta dimakan usia
Namun semangat dan pikiranmu
Untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup
Tak pernah redup
Sebuah inspirasi bagaimana bertahan hidup
disertai guratan-guratan tegas di wajahmu
Mengisyaratkan panjangnya perjalanan hidup yang telah dilalui
Tubuhmu renta dimakan usia
Namun semangat dan pikiranmu
Untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup
Tak pernah redup
Sebuah inspirasi bagaimana bertahan hidup
Senin, 01 Agustus 2011
"Aku salah menilaimu"
Jangan sesekali kau dekati MAWAR itu....!
Kata seseorang berbadan tegap dan mata yang tajam
Mawar itu penuh duri dan beracun
Aku melempar tanya yang sama lewat mata
Yang seketika meredup mendengar larangan itu?
Mengapa??
Bunga mawar itu indah tanyaku
Sekali kau memetik dan mencium aroma mawar itu
Kau akan terbius dan tak sadar
Kau akan bermain_main di ruang imajinasimu sendiri
Seolah-olah kamu pilihan hatinya
Kau pasti menangis dan sakit kata orang itu padaku
Menangis meraung_raung
Karena hatimu remuk redam
Mawar itu tak membuatmu mati
Namun racun membunuh perasaanmu
Ada raga tapi tak punya jiwa
Merah?
Warna yang menggoda mataku
Selalu saja aku bermimpi mawar itu
Doaku sama hendak memetik dan menanam mawar itu di hatiku
Kau akan melihat wajahmu nelangsa, penuh beban, penuh derita
Seperti seorang yang merasa rindu begitu besar
Hingga rindu itu terasa tengah meremas_remas hatimu tanpa belas
Lebih baik kau mengubur keinginanmu tuk memiliki mawar itu
Kata seseorang berbadan tegap dan mata yang tajam
Mawar itu penuh duri dan beracun
Aku melempar tanya yang sama lewat mata
Yang seketika meredup mendengar larangan itu?
Mengapa??
Bunga mawar itu indah tanyaku
Sekali kau memetik dan mencium aroma mawar itu
Kau akan terbius dan tak sadar
Kau akan bermain_main di ruang imajinasimu sendiri
Seolah-olah kamu pilihan hatinya
Kau pasti menangis dan sakit kata orang itu padaku
Menangis meraung_raung
Karena hatimu remuk redam
Mawar itu tak membuatmu mati
Namun racun membunuh perasaanmu
Ada raga tapi tak punya jiwa
Merah?
Warna yang menggoda mataku
Selalu saja aku bermimpi mawar itu
Doaku sama hendak memetik dan menanam mawar itu di hatiku
Kau akan melihat wajahmu nelangsa, penuh beban, penuh derita
Seperti seorang yang merasa rindu begitu besar
Hingga rindu itu terasa tengah meremas_remas hatimu tanpa belas
Lebih baik kau mengubur keinginanmu tuk memiliki mawar itu
Langganan:
Postingan (Atom)
